Toleransi Warisan Sunan Bonang

0
416
Para peziarah di makam Sunan Bonang Tuban

rpstuban.net – Sebagai wali yang kental nilai sastra Jawa, Sunan Bonang mewariskan ajaran Asah, Asih, dan Asuh. Kebersamaan aliran kepercayaan mengiringi perjalanan syiarnya.

Terlahir dengan nama Maulana Makdum Ibrahim, Sunan Bonang menjadi salah satu sembilan wali di tanah Jawa. Perjalanan dakwah putra Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila di abad 14 tersebut, melahirkan beragam kultur.

Banyak cerita mengenai metode dakwah yang dilakukannya dalam menyebarkan Islam. Piranti seni tradisi Bonang (gong kecil dari perangkat gamelan Jawa) akrab menemaninya dalam meng-Islam-kan desa-desa yang dilauinya. Karena metode seni tradisional dengan bonangnya, hingga Maulana Makdum Ibrahim dikenal dengan sebutan Sunan Bonang.

Jejak sejarah membuktikan dia adalah seorang ahli filsafat dan sastra Jawa. Salah satu kumpulan syair yang pernah diciptanya terhimpun dalam Suluk Bonang. Atas keahlian itu, sejumlah ulama menyebut Sunan Bonang mampu menjadi umaro atau pemimpin para wali di zamannya.

Aura kehebatannya masih terasa hingga kini. Hal ini tampak dari adat dan tata krama berziarah, serta perwujudan bangunan komplek makam yang berbeda dari kebanyakan malam wali lainnya. Selain berdekatan dengan Masjid Agung, letaknya juga tak jauh alun–alun Kadipaten.

Cungkup makam sengaja dibuat rendah yang melambangkan penghormatan sebagai salah satu ulama kesohor di zamannya itu. Sementara wujud Gapura Paduraksa membagi halaman cungkup makam menjadi tiga bagian. Itu melambangkan kesopanan dalam bertamu dengan mengucapkan salam maksimal tiga kali.

Pengasuh Pondok Pesantren As-Shomadiyah Tuban, Riza Sholahudin Habibi, menilai peninggalan ajaran Sunan Bonang sampai kini masih mengakar di masyarakat Islam Indonesia, khususnya di Kabupaten Tuban. Yakni; Asih, Asah, dan Asuh. Dalam falsafah Jawa berarti hidup penuh kasih, belajar, dan peduli sesama.

“Ajaran inilah yang mendorong kita untuk hidup rukun dengan orang yang beragama lain,” jelas Gus Riza, sapaan akrab Riza Sholahudin Habibi.

Indeks toleransi beragama di Tuban itu sangat tinggi. Hal ini terbukti karena di Bumi Wali tidak pernah terjadi perselisihan, ataupun ketegangan yang mengarah pada isu SARA.

“Selama ini, belum pernah ada konflik agama atau sejenisnya, berarti masyarakat Tuban mencontoh Sunan Bonang sebab warisan terbesarnya adalah merukunkan umat.” tutur Gus Riza.

Konon sang sunan berdakwah bukan hanya untuk umat muslim, tetapi juga penganut Hindu, Budha dan aliran lainnya. Metode dakwah yang dia gunakan berhasil memikat hati masyarakat, hingga akhirnya masuk Islam.

Sedangkan warisan lain yang ditinggalkan, diantaranya berbagai macam ajaran kebaikan, berupa simbol-simbol seperti sholawatan, tasyakuran, dan Manganan yang kini masih menjadi tradisi umum di masyarakat pedesaan.

“Fenomena Manganan menjelang Ramadhan istilahnya megengan itu terinpirasi dari Sunan Bonang,” papar Gus Riza.

Hal senada disampaikan Ketua Yayasan Mabarrot Sunan Bonang Tuban, KH  Ahmad Mundzir, Sunan Bonang adalah sosok yang patut diteladani. Dia membangun harmoni antarumat beragama.

Hal tersebut terlihat dari adanya sejumlah tempat ibadah di sekitar alun-alun Tuban yang hingga saat ini masih digunakan untuk beribadah. Mulai dari bangunan masjid, klenteng, pura hingga gereja. Seluruh tempat ibadah tersebut telah dibangun sejak jaman Sunan Bonang.

Ajaran Sunan Bonang masih sangat relevan mengenai toleransi dan keberagaman. Kita memang berbeda-beda, tapi tetap satu Indonesia. Makdum Ibrahim juga merangkul orang-orang selain muslim tinggal di tempat yang sama, dan hidup dalam toleransi, rukun, serta damai.

“Ini yang harus kita teladani dan terapkan dalam kehidupan sekarang,” kata mantan Ketua PCNU Tuban tersebut.

Bukti toleransi dan keberagaman di Tuban juga tampak dalam Prasasti Kalpataru yang merupakan rangkuman dari buah pemikiran sang wali. Pada prasasti setinggi 180 Cm tersebut, terukir empat tempat ibadah untuk agama berbeda-beda. Yakni; masjid mewakili agama Islam, candi mewakili agama Hindu, klenteng mewakili Tridharma (Budha, Tao, dan Konghucu), serta wihara mewakili agama Budha. Satu lagi, terdapat arca megalitik atau kebudayaan mewakili pemujaan leluhur.

“Dari prasasti tersebut kita bisa memaknai, adanya ajaran dan kepercayaan yang berbeda-beda bukan berarti menimbulkan perpecahan. Melalui sikap toleransi inilah, Islam semakin besar,” katanya. (Mubarok)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here