Gurihnya Keripik Gayam Tuban

    0
    691
    Usaha keripik gayam milik Kiftiatini, warga Desa Sambonggede, Kecamatan Merakurak, Tuban.

    rpstuban.net – Di Indonesia banyak sekali camilan atau makanan ringan berupa keripik khas daerah, seperti keripik sukun, singkong, kentang, hingga keripik dengan bahan dasar buah-buahan. Tak kalah dengan daerah lain, di Kabupaten Tuban terdapat keripik yang jarang dijumpai di daerah lain, yakni keripik gayam.

    Sesuai dengan namanya, keripik gayam terbuat dari bahan dasar buah gayam. Di  Bumi Wali, pohon gayam banyak dijumpai di wilayah Kecamatan Merakurak. Pohon dengan nama latin Inocarpus Fagiferus ini, dapat tumbuh setinggi 20 meter. Habitanya, banyak ditemukan di pekarangan rumah warga, kebun belakang rumah, hingga pemakaman umum.

    Buah gayam dapat diolah menjadi aneka camilan bernilai ekonomi, salah satunya adalah keripik. Usaha keripik gayam ini, seperti yang dilakukan Kiftiatini, warga Desa Sambonggede, Kecamatan Merakurak, Tuban. Usaha yang ia geluti sejak 1998 silam ini, terus berkembang, hingga memiliki wilayah pasar yang menjangkau seluruh pelosok nusantara.

    “Mulai usaha keripik gayam sejak 1998. Dulu saya kan asli Lamongan, gak ngerti apa itu gayam. Dapat suami Merakurak sini. Di sini banyak pohon gayam, baru kemudian saya tahu apa itu gayam. Kalau di daerah lain kan gayam hanya direbus gitu saja. Lha di sini dibuat keripik gayam, saya juga kaget,” cerita Bu tin, sapaan akrab Kiftiatini.

    Saat itu, awalnya ia sempat kaget, sebab harg akeripik gayam ternyata jauh lebih mahal disbanding harga keripik singkong, maupun kentang. Dari situ ia mengetahui bahwa mahalnya harga kripik gayam lantaran rasanya yang renyah dan gurih serta bahan baku gayam yang terbatas.

    “Awalnya kaget harganya kok mahal. Ternyata memang pohonnya tidak banyak dan juga rasanya enak. Selain itu juga buah gayam kan juga musiman, kayak mangga gitu,” lanjutnya.

    Meliha thal tersebut, wanita kelahiran Lamongan 31 Oktober 1967 ini tertarik untuk ikut terjun memproduksi keripik gayam. Awalnya usahanya tersebut dilakukan musiman, atau jelang perayaan idul fitri dan hari besar saja.

    “Terus saya usaha ini. Tapi ya musiman. Maksudnya tidak setiap hari. Pas puasa, warga kanbutuh banyak camilan ya, untuk suguhan di rumah.” jelas Bu Tin.

    Proses pemilahan bahan, proses produksi hingga proses pemasaran ia pelajaribetul satu persatu. Hingga akhirnya keripik dikemas dan diberi merk Keripik Gayam Bu Tin, seusai dengan nama pembuatnya.

    Perbedaan keripik gayam merk “Bu Tin”  dengan keripik gayam lainya adalah rasa dan kerenyahan. Proses pengolahan yang cukup panjang dengan resep tertentu, membuat keripik “Bu Tin” berbeda. Tidak heran keripik gayam itu dibanderol dengan harga cukup  mahal. Bahan baku gayam ia dapatkan dari sejumlah desa di wilayah Kecamatan Merakurak.

    “Keripik saya lebih renyah dan tidak alot seperti keripik gayam lain. Yang lain kanbiasanyahargaantaraRp75 ribu sampa iRp80 ribu per kilogramnya. Kalo saya paling murah Rp100 ribu per kilogram,” terang Bu Tin.

    Ada empat kemasan keripik Gayam merk “Bu Tin”. Pertama kemasan 2 ons yang dibanderol dengan hargaRp. 22.000,- kemasan 4 ons dengan harga Rp. 42.000,- kemasan setangah kilogram dengan harga Rp. 52.000,- dan kemasan satu kilogram yang dibanderol dengan harga Rp. 100.000,-.

    Dalam sehari biasanya ia mampu memasarkan rata-rata 10 kilogram. Sedangkan untuk bulan tertentu seperti bulan puasa, penjualan bisanya meningkat drastis hingga laku 30 kilogram perhari.

    “Sebenarnya gak banyak ya pemasarannya, karena kami menjaga kualitas, juga bahannya terbatas. Kalo puasa penjualan meningkat drastic dan harganya bisa Rp150 ribu kilogram, itu orang mau,” terang Kiftiatini.

    Keripik Gayam merk “Bu Tin” ini dipasarkan secara offline dan online. Pembelinya takhanya warga lokal Tuban saja, melainkan hingga keseluruh pelosok nusantara.

    “Pemasaran di rumah dan online, kadang kirim ke Bandung, Kalimantan, Papua, Menado, Jakarta.” kata Bu tin.

    Usaha yang ia geluti selama lebih dari dua puluh tahun ini bukan tanpa kendala. Bahan baku buah gayam saat ini sangatlah terbatas, karena lahan-lahan yang digunakan untuk tanam pohon tersebut sudah beralih fungsi. Selain itu, pohon gayam juga tidak sepanjang tahun berbuah, melainkan musiman seperti pohon mangga.

    “Untuk produksi dan lainnya gak ada kendala. Hanya bahannya saja yang mahal dan sulit didapat. Karena bahan baku pohonnya banyak ditebang atau alih fungsi lahan,” terangnya. (Mubarok)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here