Bujang di Tengah Malam

0
294
Ilustrasi Foto : https://sepositif.com)

Oleh : Sri Wiyono

rpstuban.net – Malam baru beranjak. Bulan tanggal 15 itu malu-malu di balik awan. Terpapar cahaya bulan, awan hitam itu jadi agak abu-abu. Tak seperti biasanya. Rembulan tanggal 15 ini nampak murung. Padahal, bulan-bulan sebelumnya selalu ceria. Memperlihatkan bundar wujudnya secara utuh, menggantung di atas langit.

Jika dilihat dari pucuk Boom, atau di pinggiran tanggul di sepanjang jalan depan Klenteng Kwan Sing Bio Tuban, rembulan itu seolah hanya sejengkal dari permukaan air.

Malam ini memang agak kelabu. Udara begitu dingin. Di depan masjid Agung Tuban, masih nampak tergenang air, sisa hujan ba’da Isyak tadi. Tiba-tiba hujan turun begitu saja. Lebat sangat. Air bagai ditumpahkan dari langit, bukan lagi rintik dan tetesan. Tapi langsung ditumpahkan. byuur…

Lelaki tinggi kurus itu masih setia di tempatnya. Di sebuah bangku di Alun-Alun. Bangku dari cor beton seolah ada magnetnya, hingga pantat lelaki bermuka kusut itu menempel erat di sana. Buktinya, sejak usai hujan sampai tengah malam dia masih terpekur di sana.

Entah berapa batang sigaret yang sudah dia hirup asapnya. Puntung rokok berserakan di sekitar dia duduk. Pasti, pagi harinya petugas pembersih Alun-Alun yang berjumlah 15 orang itu bakal nggerundel karena ulah lelaki itu.

“Membuang sampah sembarangan. Jalan sedikit saja kok gak kamu. Wong ada tempat sampah disediakan,” begitu pasti guman petugas penyapu Alun-Alun, sambil geleng-geleng kepala.

Sebab, kesadaran untuk menjaga kebersihkan lingkungan menjadi barang langka di tengah masyarakat kita. Padahal, kebersihan adalah sebagian daripada iman, begitu katanya. Entahlah…

Lelaki ceking itu masih duduk terpekur. Kali ini mengusap rambutnya yang awut-awutan. Barangkali, suasana hatinya seruwet jalinan rambut di kepalanya yang setengah ikal. Baju yang kusut, senada dengan wajahnya.

Ada apa gerangan pria muda itu. Bukankah dia sebelumnya sumirngah, namun mendadak lemah lunglai. Lesu tak bergairah. Mendadak melow…

Sore selepas Maghrib, pemuda ceking itu masih begitu cerianya, seusai menerima pesan whatstapp dari seseorang di seberang sana. Dilihat dari foto profilnya, pengirim pesan itu seorang gadis muda. Di foto profil itu terlihat centil, dua jari menutup bibir merah yang dimonyongkan. Mata mengerling sebelah.. ah anak gadis jaman now

Dan, si pemuda begitu girang. Berkali-kali pesan itu dibaca sambil senyum-senyum. Tangannya lalu mengepal dan berteriak “Yesss..!!!”

“Udiiiiinnnn…!!” teriak perempuan dari ruang tengah. Nampaknya perempuan itu kaget mendengar teriakan pria bernama Udin itu, saat sedang asyik menikmati jalan cerita sinetron Fatih di Kampung Jawara kesukaannya.

“Maaf buk…,” balas Udin tak kalah kerasnya.

Dan, si Udin tetap senyum-senyum sambil mematut diri di depan cermin yang menyatu dengan pintu lemari bajunya.

“Tunggu aku di bangku itu mas. Bangku depan Masjid Agung,” begitu isi pesan yang sangat menggembirakan itu.

Undangan itu bagi Udin mengalahkan undangan menghadiri upacara detik-detik Proklamasi di istana negara. Apalagi hanya undangan ngopi bareng rekan-rekannya. Tak ada yang spesial malam ini selain undangan dari gadis dalam WA itu.

Udin mencari bajunya yang terbaru. Dia ingat sebuah kemeja lengan panjang baru datang dua hari lalu. Baju yang dia beli melalui situs online. Celana hitam ketat membalut kakinya. Sepasang sandal gunung mengalasi telapak kakinya. Tak ketinggalan semprot minyak wangi di sekujur tubuhnya.

“Buk, Udin keluar dulu,” pamitnya dengan riang.

“Loh mau ke mana, apa gak masih gerimis di luar,” tanya sang ibu.

“Nggak, sudah reda hujannya,” jawab Udin

“E..e…e..mau ke mana toh kok wangi sekali,” perempuan itu masih bertanya dengan keheranan.

“Mau acara sama kawan-kawan,” jawab Udin sambil berlalu.

Dia ingin cepat-cepat pergi dari hadapan ibunya, sebelum diberi pertanyaan-pertanyaan menyelidik lagi.

Helm hitam dia pakai. Motor keluaran tahun 2010 dia starter, keluar dari halaman rumah dan berjalan membelah dinginnya malam. Orang lain mungkin merasa dingin, namun Udin merasa begitu hangat. Suasana hatinya memang sangat hangat saat itu. Pikirannya juga hangat hingga mampu mengusir udara dingin di sekelilingnya.

Dia langsung menuju bangku depan Masjid Agung seperti isi pesan itu. Lama dia menunggu. Berkali-kali dia lihat hapenya. Belum ada WA masuk seperti yang dia harapkan. Riuhnya saling komen di grup WA kawan-kawannya tak membuat Udin tertarik untuk memainkan jarinya di atas keyboard hape dan membalas komen.

WA dari cewek muda nan centil itu sudah memenuhi pikirannya. Dia tak sabar untuk ketemu cewek itu. Perempuan yang selama berhari-hari memenuhi alam mimpinya. Lama sudah Udin tak ketemu gadis itu, sejak sang gadis pujaan tersebut ikut keluar kota salah satu familinya.

Dan, dua hari ini sang gadis pulang. Dua bujangan itu, Udin dan si gadis janjian ketemu. Biasanya memang bangku beton seberang Masjid Agung itu tempat mereka ketemuan. Duduk jejer sambil makan jagung bakar atau pentol dalam kantung plastic. Masing-masing memegang satu kantung. Minumnya es tebu, atau minuman kemasan yang banyak dijual di sana.

Karena itu, malam yang dingin tersebut menjadi malam yang sangat istimewa bagi Udin, karena bakal ketemu gadis pujaannya. Namun satu jam lebih dia di sana, belum ada tanda-tanda sang gadis akan datang. Jarum jam di arlojinya menunjukkan tepat pukul 21.00.

Alun-Alun sudah nampak sepi. Hanya beberapa pedagang saja yang berjualan, itupun sudah mulai berkemas dan menutup lapak. Udara dingin makin menusuk. Tiba-tiba hape Udin berbunyi. Profil gadis centil itu kembali hadir. Namun isi pesannya sangat tidak diharapkan.

“Maaf mas, malam ini aku tidak bisa datang. Aku harus kembali ke Jakarta saat ini juga. Keretaku berangkat tak lama lagi. Ini aku sudah di stasiun.”

Deretan gambar dua telapak tangan menangkup sebagai tanda permohonan maaf disematkan. Mata Udin nanar, dan tak ada gairah lagi. Bujangan ini kembali gagal berjumpa gadis pujaannya. Maka berdiamlah dia di bangku itu, sampai tengah malam.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here