Pages Navigation Menu

Ronggolawe Press Solidarity

Petani Keluhkan Pupuk Semakin Langka

pupukrpstuban.com – Persoalan pupuk di Kabupaten Tuban hingga saat ini belum juga stabil. Hingga saat ini kelangkaan pupuk masih sering terjadi, padahal sebagian besar daerah pertanian di Kabupten Tuban belum memasuki musim tanam, hanya persawahan yang memiliki aliran irigasi sendiri yang bisa bercocok tanam.

Salah satu petani yang mengeluh kesulitan mendapatkan pupuk adalah Kasmari (58), warga Desa Kembangbilo, Kecamatan Tuban. Petani penggarap lahan ini mengaku sudah dua hari ini mencari pupuk, tapi selalu nihil. Semua kios, katanya, kehabisan pupuk.

”Saya sudah muter-muter cari pupuk sampai ke Plumpang, Semanding, dan daerah kota semua tidak ada pupuk ureanya,” kata Kasmari, kepada wartawan, Sabtu (19/9/2015).

Kasmari tidak tahu apa sebab pupuk jenis urea yang dicarinya itu tidak ditemukan. Padahal, saat ini sebagian besar petani di Tuban belum mulai tanam lantaran kekeringan. Jika ada stok pupuk itupun harganya sangat mahal.

”Jika di kios ada harganya mencapai Rp 225 ribu per paket, berisi 1 zak urea, 1 zak Phonska, dan 1 zak organik. Padahal, yang saya butuhkan cuma urea, tapi gak boleh beli urea saja. Harus semua dibeli. Lha terus dipakai apa,” ungkapnya.

Menurutnya, beli pupuk urea saja memang bisa, tapi harus dengan cara “nempil” yakni membeli dari sesama petani dengan harga jauh lebih tinggi. ”Kalau nempil harganya mahal pupuk urea seharga Rp 120 ribu/zak bahkan lebih,” ungkapnya.

Kabupaten Tuban sendiri mendapat jatah pupuk 116.592 ton, atau lebih rendah 37 persen dari Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok tani (RDKK) yang diajukan sebesar 310.343 ton. Pihak Dinas Pertanian, Peternakan dan Kehutanan (DPPK) Tuban menjelaskan, dengan realisasi yang lebih kecil itu sudah wajar jika kebutuhan pupuk petani tidak tercukupi.

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Holtikultura DPPK Tuban Suparno mengatakan, mengingat alokasi terbatas, realisasi pupuk memang agak sedikit dihemat. Alasannya, untuk cadangan agar saat musim penghujan tiba, tidak terjadi kondisi kelangkaan.

”Sekarang sudah September. Kalau hujan sudah mulai turun, kebutuhan pupuk akan meningkat tiga kali lipat. Kita hemat saat kemarau, agar saat musim tanam tiba tidak kuwalahan,” ungkapnya.

Menurutnya, tahun ini DPPK Tuban mentargetkan luasan tanam mencapai 32 ribu hektar lebih. Namun, di musim kemarau seperti saat ini, hanya sekitar 12,8 ribu hektar atau 40 persen dari total luasan area tanam yang masih produktif.

”Pada musim kemarau seperti ini memang pupuk kita perhemat sebagai cadangan untuk musim tanam mendatang,” pungkasnya. (pul/im)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *