Pages Navigation Menu

Ronggolawe Press Solidarity

Gulat Pathol, Tradisi Pesisir Tergerus Budaya Baru

Patholrpstuban.net 

Gulat pathol, salah satu tradisi nelayan pesisir utara wilayah Kabupaten Tuban diprediksi tak lama lagi bakal tinggal cerita. Meski hampir tiap tahun diselenggarakan, seperti yang terjadi di wilayah pemukiman nelayan Kelurahan Karangsari Kecamatan Kota Tuban Selasa (6/9/2011) sore lalu, namun jumlah pesertanya semakin menipis. ‘’Sekarang kelihatannya hanya sekedar tontonan saja,’’ tutur Arif, salah seorang nelayan.

Terlihat tidak ada kebanggaan dari peserta. Padahal, dari berbagai keterangan yang diterima LIcom, gulat pathol tidak sekedar adu fisik. Namun, juga luapan kegembiraan nelayan sebagai wujud syukur  dan harapan karena menerima limpahan rejeki dari laut yang banyak. Tidak salah kalau dahulu-dahulunya jumlah pesertanya cukup banyak.

‘’Kalangan’’, atau yang sekarang disebut ‘’ring’’ dahulu dihiasi dengan janur, maupun obor apabila pertandingan berlangsung hingga malam hari. Petinggi-petinggi pemerintahan local juga seringkali hadir. Tidak salah kalau lokasi inipun menjadi ‘’pusat keramaian’’, karena juga dimeriahkan oleh para pedagang yang datang. Apalagi, gelar gulat ini merupakan salah satu rangkaian  tradisi nelayan, yang puncaknya diselenggarakan sedekah laut, ataupun larung sesaji.

Peserta gulat pathol merupakan ‘’jago’’, atau perwakilan dari  kelompok-kelompok nelayan dari desa-desa pesisir lainnya. Pemenang pertandingan mendapat ‘’tempat’’ dilingkungannya. Pegulat ini diyakini membawa keberuntungan bagi perkampungan nelayan  dimana tempat dia tinggal. ‘’Ini merupakan salah satu indikasi mulai melunturnya kerukunan antar warga nelayan,’’ aku salah seorang nelayan asal Kingking.

Untuk melestarikan seni tradisi ini pihak Pemkab Tuban pernah memasukkan dalam salah satu agenda pariwisata namun umurnya hanya seumur jagung. Seperti yang dikatakan Imaduddin dan Harimurti, dua orang penggiat seni tradisi ini tujuh tahun lalu.

Gulat pathol, menurut mereka, merupakan wujud dari kebanggan sekaligus kebersamaan kalangan nelayan, baik yang tua maupun muda. ‘’Dengan masuk diagenda wisata loka kita berharap agar menjadi pemicu proses pelestarian. Tapi untuk perkembangannya kembali kepada pemilik tradisi ini,’’ tutur Imaduddin.

Sementara ini, Dimyadi, salah seorang panitia gulat pathol  justru mengatakan hal yang berbeda. Menurut dia, pelestarian tradisi ini tidak bisa diserahkan kepada kaum nelayan tapi harus mendapat dukungan dari pihak ketiga. Jan/LI-08    

Sumber : lensaindonesia.com

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *